terus, saya buka profile nya dia, dan ternyata tweet nya (status2nya) dia itu isinya quotes2 yang sangat memberkati. ya sudah, akirnya saya follow balik dia, karena saya terberkati dengan tweet2 nya dia. padahal nggak kenal loh.
suatu hari, aku tercenung membaca salah satu tweet nya yang berbunyi:
People are lonely because they build walls instead of bridges. -Unknown.
aku jadi mikir..selama ini, aku secara sadar sudah membangun begitu banyak tembok..entah kenapa..hanya saja, ketika relasi ku dengan seseorang mulai menjauh dan aku menemukan suatu zona nyaman, aku cenderung tinggal di zona nyaman tersebut. membangun tembok pada duniaku sendiri. dunia yang bisa ku akses dari dalam kamarku. dunia yang ku akses dari buku2ku. dunia yang ku akses dari tv.
kadang aku nggak bermaksud untuk seperti itu sih. hanya saja, ketika aku sadar dari keautisanku, seringkali tembok2 itu sudah ada.
apa contohnya: contohnya aku nggak mau angkat telpon, nggak mau ditemui di kost, kabur entah kemana dari acara kumpul2..
itu tembok yang kubangun secara sadar dan dalam kondisi hati normal ataupun yah lagi autis gitu.
di satu sisi, aku bersyukur ketika tembok2 yang terbangun diantara aku dan beberapa orang semasa aku kuliah sudah mulai runtuh. kami mulai menjalin komunikasi, bahkan ada yang dekat sekal-sedekat pada seorang sahabat yang kepadanya aku mulai bisa menceritakan rahasia2 kecilku.
kalau tembok yang ku bangun karena aku sudah pernah disakiti?
ada!
namun, untuk orang yang akhir2 ini menyakiti hatiku-baik dia memaksudkan untuk begitu ataupun tidak- aku secara sadar banget membangun tembok diantara aku dan dia.
dulunya yang sering sms, pergi2 bareng-entah itu keluar kota atau sekedar makan malam, semua kuhentikan. aku tau, dia mungkin nggak merasakannya karena dia sedang menemukan dunia baru nya.
tapi aku berharap dia berinisiatif meruntuhkan tembok ini. dengan sms2nya (yah walopun mungkin nggak terlalu ngefek juga buatku sih). aku ingin dia mencari dan mengigatkan aku tentangnya. egois memang. tapi aku nggak terlalu berharap dia akan begitu sih.
karena bagaimanapun, aku harus bertindak sebagai sahabatnya bila dia membutuhkan aku.
munafik kah diriku? seorang sahabat yang secara emosi sepihak membangun tembok antara dia dan sahabatnya, tapi bertindak seolah tiada apa2.
mungkin karena kebiasaan kami sejak dulu yang selalu available untuk satu sama lain. aku tak tahu, apakah dia juga membangun tembok yang sama secara tak sadar?? aku hanya merasa secara emosional, aku sudah begitu jauh darinya.
kenapa aku nggak membangun jembatan? karena menurutku, membangun tembok itu benar2 jauh lebih mudah.
aku bukan kepahitan, karena aku masih bisa bercengkrama dengan dia. hanya secara emosi, suda terpisah begitu jauhnya.
kadang pingin nangis kalau mengingat dan merasa tembok yang kubuat dengan sengaja ini begitu susahnya untuk diberi jembatan. bahkan ketika jembatan itu hanyalah sebatas doa.hanya saja, sepertinya air mataku sudah kering. maka saat ini aku hanya bisa membuat diriku menyelam.,menyelam..menyelam...
0 komentar:
Poskan Komentar