Jumat, 06 Agustus 2010

tubuh manusia dan level kemanusiaan

Pernahkah kamu berpikir, kenapa Manusia, yang katanya segambar dan serupa dengan Allah ini dikasi bentuk kayak gini?Termasuk itu mata,telinga, bibir,otak, hati, dan kaki. Setiap bagian dari diri kita.

Aku mempercayai bahwa setiap eksistensi di dunia ini dimaksudkan untuk sesuatu. Ini bukan kuliah agama kok, cuman membagi pemahaman yang membuatku makin menyadari bagaimana harus hidup sebagai manusia. Takkan ada khotbah, bible verse,dkk disini. 

Menurutku,dua mata, agar kita bisa melihat lebih luas, lebih lebar, dari kedua sisi. Kenapa Tuhan gak membuat mata kita bisa berputar 360 derajat kayak Mad Eye Moody di Harry Potter?
Agar yang kita lihat itu depan, samping boleh lah untuk memperluas pandangan. Tapi kurasa Tuhan ingin kita melihat kedepan. Ke belakang kadang saja, tak perlu terus2an.

Dua telinga,agar kita bisa mendengar dengan lebih jelas, mendengar dari sisi kiri dan kanan. Coba dengar dengan satu kuping saja, maka kamu takkan tahu apa yang s
sedang terjadi di sekitarmu sebenarnya.

Bentuk kaki yang seperti itu,agar kita melangkah maju, bukan menyamping kayak kepiting. Dua mata yang menunjukkan arah depan,diikuti dua kaki untuk senantiasa mengambil langkah maju dari luasnya pandangan dan pendengaran kita.

See? The universe is really a perfectly organized complexity, for a very big purpose.

Karena itu jugalah, kehidupan manusia yang mendapat karunia lebih (yaitu akal budi), tak seharusnya menggantungkan jati dirinya dari sesuatu materiil yang ada di dunia.
Sebagai contoh,seseorang yang memutuskan untuk menjadi vegetarian untuk menekan hawa nafsu.

Buatku, sungguh sayang apabila level manusianya hanya diletakkan disana. Bukankah menekan hawa nafsu dan mengendalikan diri itu pilihan. Pilihan untuk berkata tidak. Yang adalah bukan pengikat kebebasan,melainkan ekspresi dari kebebasan manusia. Kebebasan untuk berkata tidak.
Mempunyai sikap hati baik hanya datang dari kemauan manusia mengontrol perilakunya ketika godaan datang. Tuhan kan udah kasih otak sepasang sama hati.

Jadi kenapa manusia (dengan segala keteraturan kompleksnya yang kusebutkan diatas) masih meletakkan level kemanusiaannya dibawah level binatang, atau materi? Dibawah level bintang (astrologi), dan sebagainya?

Manusia sudah diciptakan segambar dan serupa Allah, dan selayaknya hanya kepada Penciptanya saja ia takhluk. orang2 jahat akan selalu ada, tapi kekuatan jahatnya tak akan lebih besar dari kekuatan yang maha Pencipta.

Bingung ya poinnya aku mau ngomong apa? LOL. You guess it yourself!

0 komentar: